Banyak dari kita mungkin ngerasain kalau Lebaran tahun ini menjadi Lebaran yang “gak biasa” dari tahun-tahun sebelumnya – bayangin aja, kita gak mudik! Jangankan pulang kampung, buat tarawih ke masjid aja kita dilarang 😭 banyakkin doa supaya outbreak ini segera berakhir ya!
Aku mau cerita sedikit. Suatu waktu sebelum Hari Raya, aku berkesempatan buat belajar baking (akhirnya!) dari salah satu tetanggaku – kebetulan satu kampung, jadi deket banget sama Ibu. Beliau dulu pernah bekerja pada salah satu instansi pemerintahan, dan emang hobinya bikin kue. Tiap tahun gak pernah absen buat ngasih kue Lebaran buat Ibu. Nah kemarin ini – mulai sekarang panggil aja Tante Kikan – ngajakkin aku buat belajar baking di rumahnya. Gak mau nyia-nyiain kesempatan emas ini, aku langsung mengiyakan ajakannya. Kapan lagi kan? Being quarantine doesn’t mean we can’t be productive.
Awalnya aku malu – maklum, seumur-umur kenal sama Tante Kikan ini aku gak pernah ngobrol lebih dari kata ‘terima kasih’ karena udah ngasih kue putri salju – dan minta Ibu buat nemenin selama proses pembuatan kue. Tiga hari berturut-turut aku belajar dengan beliau, and surprisingly, banyak yang suka sama hasil karya perdanaku ini. Yay!
Yang mau aku sharing disini bukan soal kuenya, apalagi proses bikinnya. Waktu itu aku lagi filling selai nanas buat nastar – dan kebetulan Ibu lagi asik sama grup WhatsAppnya – tiba-tiba Tante Kikan membuka pembicaraan.
“Pengen nanya dong. Sebenernya kamu berminat gak kerja buat pemerintah?”
“Hmm, gimana ya? Jujur untuk sekarang aku belum ada minat kesana karena gak passion aja sih, Tante,” ucapku, berhati-hati untuk tidak menyinggung perasaannya.
“Oh, gapapa kok, gak ada paksaan juga,” ada jeda saat itu. “Tapi kamu harus keluar dari sini. Pack your bags.”


Kaget dong denger ucapannya. Ma’am, we just talk a couple minutes ago. Kenapa tiba-tiba nyuruh buat angkat kaki deh?
“Maksudnya, Tante?”
“Iya kamu harus pergi dari sini. Explore. Dunia terlalu sayang buat dicuekkin gitu aja.”
“Ya, pengennya gitu sih, Tante. Tapi kan gak segampang itu. Banyak yang harus dipertimbangin.”
“Terlalu banyak pertimbangan malah bikin kamu gak sadar banyak waktu yang udah kebuang percuma. Selagi mampu, pergi.” Saat masih bekerja dulu, bisa dibilang Tante Kikan cukup sering bepergian – entah keluar kota atau ke negeri orang – karena urusan pekerjaannya. Setelah ia pensiun, kecintaannya pada travelling gak berkurang. She’s such an independent woman.
“Iya, Tante. Emang Tante udah pernah kemana aja?” tanyaku, berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Banyak, sebut aja satu-satu. Kebanyakan keliling Indonesia sih, daripada keluar. Tapi percaya deh, butuh beberapa tahun buat bisa datengin kota Indonesia satu-satu – dan Indonesia gak kalah bagus sama negara lain,” kenangnya dengan bangga.
Ngedengernya aja udah bikin daydreaming. Kalau udah ke semua tempat berarti ke Morotai juga udah dong, pikirku.
“Pasti gak dibolehin sama orang rumah, ya?” tanyanya membuyarkan lamunanku. Tepat sasaran.
“Hehe, iya.”
“Misal dapet kerjaan di luar kota?”
“Biasanya awalnya dibolehin, tapi ujungannya mereka ragu cenderung nolak.”
“Udah pernah coba buat diobrolin?”
“Udah, sih. Tapi ya hasilnya tetep sama.”
Dengan senyum ia merespon, “itu karena mereka terlalu sayang sama kamu. Coba kasih pengertian, bikin mereka percaya kalau kamu beneran pengen dan kamu mampu.”
Pembicaraan ini ngingetin aku sama salah satu subjek yang diajarin di kelas Psikologiku; namanya Separation-Individuation Theory, salah satu fase dalam kehidupan yang mayoritas dirasain oleh setiap orang. Banyak dari kita pernah ngerasain suatu masa untuk hidup ‘individualis’ – bukan sepenuhnya individualis – dimana kita pengen untuk setidaknya menyendiri dan berpisah untuk beberapa waktu dari suatu hubungan. Hal ini bisa ditemuin di hubungan manapun, gak melulu romantic relationship.
Namun, gak semua pihak bisa nerima situasi ini. Dalam analisis SSLD (Strategic, Skills Learning, and Development), ketika seseorang gak bisa buat “merelakan” orang terdekatnya melewati fase ini, biasanya mereka udah “berinvestasi” banyak pada hubungan tersebut – dalam artian mereka gak punya banyak pilihan dari hubungan lain untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Misalnya, yang paling gampang adalah dari hubungan pacaran. Ketika X pengen sendiri – entah untuk alasan apapun – gak bisa dipungkiri Y, pasangannya, langsung merasa was-was karena takut ditinggalin. Hal ini disebabkan karena kebutuhan Y udah amat sangat terpenuhi oleh kehadiran X – bisa karena perhatiannya, ketegasannya dalam ngambil keputusan you name it, atau apapun – yang akhirnya bikin Y bergantung dengan X. Karena kondisi ini juga yang bikin X gak bisa berkembang, dan gak menutup kemungkinan hubungan mereka bakal dipenuhi perdebatan karena salah satunya, X, gak bisa menuhin kebutuhannya.
Sama halnya dengan hubungan orang tua dengan anaknya, kaya yang lagi aku rasain. Ada saatnya kita bakal hidup berpisah dengan orang tua – bisa karena ngerantau buat bekerja, kuliah, atau yang paling mungkin adalah, obviously, menikah. Beberapa orang tua gak bisa ngelepasin anak mereka gitu aja karena kebutuhan mereka udah terpenuhi dari hubungan ini dan gak bisa ditemuin di hubungan manapun. Mereka gak bisa ngerasain kasih sayang yang sama dari orang lain, gak bisa ‘marahin’ (dalam arti positif ya) dengan cara yang sama dengan siapapun, dan yang paling penting adalah mereka gak bisa ngelaksanain peran sebagai orang tua secara langsung jika anaknya gak ada di dekat mereka. Pun akhirnya mereka melepaskan anaknya, mereka bakal cenderung ngerasa gelisah, khawatir, protektif, dan bakal menahan anaknya buat pergi selama mungkin.
Gak ada salahnya buat kita obrolin apa yang kita butuhin sama lawan bicara kita. Address what we needed the most and how to fulfil them in a good approach. Dalam kasus hubungan anak dan orang tua ini, pastiin kita nyampeinnya sedetail mungkin dan bikin mereka merasa aman buat ngelepasin salah satu orang terpenting dalam hidup mereka.
Intinya satu; orang tua berat melepas anak mereka karena udah berinvestasi banyak kasih sayang. Yakini mereka dengan cara yang baik tanpa terkesan memaksa. Conclusively, they want what’s best for their – always be – little child. Selamat berkomunikasi!
“Lalu, bagaimana dengan nasib Ella? Apa dia hidup bahagia bersama pangeran?” 
“Benar sekali. Kau tampaknya sudah mulai terbiasa dengan cerita happy ending.” 
“Namanya seperti namamu, Elle. Aku harap kau dapat menikah dengan seorang pangeran.” 
“Sekarang sudah tidak ada yang namanya pangeran.” 
“Kata siapa? Di Inggris ada Charles, Prince of Wales. Ia bahkan memiliki anak yang dipanggil Pangeran juga,” ia diam sejenak dan kemudian melanjutkan, “oh tidak! Bahkan mendiang istrinya memiliki nama yang sama denganku!” 

Sore itu Elle membacakan dongeng Cinderella untuk Diana. Inilah rutinitas akhir minggu mereka yang dilakukan sejak mereka duduk di bangku sekolah dasar. Elle selalu menyukai reaksi Diana ketika dibacakan dongeng seperti ini. 

Diana mengidap sindrom Asperger, salah satu gangguan neurologi yang termasuk dalam spektrum autisme. Tidak seperti gangguan spektrum autisme lainnya, pengidap sindrom ini memiliki tingkat kecerdasan yang luar biasa. 

Elle mulai mengenal Diana sejak ia menjadi tetangganya beberapa tahun yang lalu. Orang tua Diana bercerita padanya mengenai kondisi Diana, dari perilaku kognitif hingga kecintaannya pada literatur. Ibunya mengenang betapa senangnya Diana saat ia dibelikan buku pertamanya – salah satu kaya Grimm bersaudara yang belum dialihbahasakan – yang membuat ibunya kesulitan untuk menyampaikan isinya. “Kemampuan bahasa Jermanku sudah memudar,” aku ibunya dengan tawa riangnya saat itu. 

Diana masuk di sekolah khusus yang berjarak dua blok dari rumahnya, tidak jauh dari sana terdapat satu sekolah khusus putri tempat Elle menuntut ilmu. Awalnya orang tua Diana tidak ingin memasukkannya ke sekolah khusus, karena mereka merasa Diana mampu bersekolah di sekolah umum. Beruntunglah Diana mendapatkan wali kelas sebaik Mr. Fabian, yang mengetahui betapa spesialnya kemampuan Diana. 

“Aku sudah bilang padamu kan? Minggu depan aku akan membolos dan pergi ke kota sebelah,” sambung Elle sambil memberikan sepotong egg sandwich kepada Diana. 
“Andai ibu tiri dan saudara-saudaranya bersikap baik padanya. Mereka mungkin tidak akan menjadi seperti ini,” Diana mengambil roti lapis tersebut tanpa menggubris omongan Elle. 
“Aku capek dengan kelakuan nenek. Ia selalu menyalahkanku padahal aku tidak berbuat salah. Aku tahu, dia sudah tua. Ah, aku mulai merindukan orang tuaku.” 
“Bagaimana bisa sebuah labu menjadi kereta kuda? Apalagi Gus-Gus! Wah, aku tidak menyangka tikus gembul itu bisa juga menjadi seekor kuda yang gagah.” 
“Sudah besar nanti, aku akan pergi ke kota besar dan hidup disana sendirian. Bebas. Tidak ada yang bisa menyalahkanku.” 
“Dan lagi sepatu kacanya tidak pecah! Padahal sudah ia pakai berdansa dan berlarian. Jika sepatu itu benar-benar ada, pasti akan cantik sekali.” 

Elle tersenyum melihat Diana yang amat fokus dengan buku bergambar tersebut yang ia dapatkan dari thrift shop setempat. Elle selalu menikmati momen ini, dimana ia bisa mencurahkan semua yang mengganggu pikirannya tanpa intervensi siapapun. Diana tidak pernah memerhatikan cerita Elle. Dia hanya tertarik pada buku-buku dongeng kesayangannya. 

“Ah, iya. Aku ingin bertanya sesuatu padamu,” ia mengeluarkan dua polaroid yang bertuliskan ‘sedih’ dan ‘menangis’. “Apa bedanya dari kedua ekspresi ini?” 
“Oh itu, dengar baik-baik ya. Ekspresi ini biasanya menunjukkan kalau kita sedang merasa kehilangan, kecewa, namun tidak sampai menangis. Di foto ini aku hanya menunjukkan alisku yang menurun diikuti dengan sudut bibirku yang juga menurun,” Elle menjelaskan sambil memegang foto dengan tulisan ‘sedih’ diatasnya. Ia kemudian menjelaskan foto berikutnya, “yang ini adalah efek dari rasa sedih, foto yang barusan aku tunjukkan. Biasanya jika kita benar-benar merasa terluka, kita akan menunjukkan ekspresi ini. Ada beberapa tetes air yang keluar dari mata kita.” 

Foto-foto polaroid tersebut merupakan salah satu metode yang diajarkan ibunya Diana untuk mengajarinya mengenai berbagai ekspresi. Ibunya mendapatkan ide setelah menonton Innocent Witness, salah satu film asal Korea yang menceritakan penderita sindrom Asperger yang berperan sebagai saksi kasus pembunuhan. 

Diana berusaha memahami penjelasan singkat Elle. “Berarti hari ini kau sedang sedih ya?” 
Mendengar hal itu, Elle tersontak. Kagum dengan kemajuan dan kepekaan yang dimiliki Diana hari itu. “Iya, aku sedang sedih. Tapi kau tidak perlu khawatir,” jawab Elle dengan penuh semangat. Tidak sabar untuk menyampaikan apa yang didengarnya kepada orang tua Diana dan Mr. Fabian. 

www.meetlalaland.com - cerita fiksi pengidap asperger

Dalam perjalanan mereka bertemu Mr. Fabian keluar dari toko buku Andalusia. Mr. Fabian masih muda, berusia awal 20an dengan tinggi tubuh kurang lebih 180cm, rambut hash brown dan kacamatanya yang selalu disematkan di saku kemejanya tidak pernah gagal membuat Elle berdecak kagum. Ia mendapat gelar sarjana untuk Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus dan menjadi lulusan terbaik dari salah satu universitas di New Jersey. 

“Hai. Habis dari mana kalian?” ia bertanya langsung kepada Diana, berharap langsung mendapat balasan darinya. Namun usahanya sia-sia karena Diana hanya terpaku dengan buku dongeng yang diberikan Elle. 
“Swan Lake,” jawab Elle melihat Diana tak kunjung menjawab. 
“Baca dongeng buat Diana lagi? Saya kagum denganmu.” 
“Iya,” Elle merespon dengan tersipu, lalu kembali melanjutkan. “Diana tadi menunjukkan kemajuan yang luar biasa, Mr. Fabian. Ia mengerti dengan ekspresi yang aku miliki.” 
“Oh iya? Bagus dong. Andai saya tadi bisa melihatnya.” 
Elle mengangguk sambil mengeluarkan tumblr yang sedari tadi diminta Diana. 
“Memangnya tadi kenapa? Ada masalah, Elle?” tanya Mr. Fabian. 
“Ah, tidak. Aku hanya sedih karena urusan rumah. Dan aku rindu kedua orang tuaku.” 
Tampak Mr. Fabian berpikir keras sebelum ia bertanya, “kalau butuh tempat untuk cerita, saya bisa mendengarkan.” 
“Tidak perlu, Mr. Fabian. Bercerita kepada Diana juga sudah menghiburku, walaupun dia tidak benar-benar mendengarkanku,” Elle tersenyum dan jantungnya berdegup kencang mendengar pertanyaan Mr. Fabian barusan. 
“Mau saya antar ke rumah kalian?” 
“Tidak usah. Sudah dekat juga kok. Kami permisi dulu, Mr. Fabian.” 

Mr. Fabian mengalah dan menyilakan Diana dan Elle untuk pulang. Ia merasa aman karena Diana mendapat teman sebaik Elle yang tanpa pamrih. City car hitam itu kemudian melaju ke arah berlawanan. 

Malam di pertengahan bulan Desember mulai terasa dingin. Elle menundukkan kepala di atas meja belajar kamarnya, menangis karena mendengar tuduhan tanpa alasan yang kembali dilontarkan neneknya. Ia merasa sudah tidak kuat. Air matanya telah membasahi lengan sweater birunya. 

“Aku salah apa Mom, Dad. Kenapa aku selalu disalahkan,” ia bertanya pada foto orang tuanya yang terpasang di bingkai foto dekat pencil holder. Perasaannya yang kacau membuatnya ingin memorak-porandakan isi kamarnya. 

Sejenak ia melihat kalender dan mencoret catatan kecil yang ada di depannya – mengubah rencana untuk pergi secepatnya. Jumat depan ia akan pergi seharian untuk meluapkan amarah dan mencari barang sedikit kebahagiaan. Namun seketika ia terpikir Diana. Aku tidak mungkin meninggalkan dia tanpa kabar, pikir Elle. Apalagi melihat kemajuan yang dimiliki Diana siang tadi, tidak menutup kemungkinan Diana akan mencari Elle. 

Elle tiba-tiba memiliki suatu firasat. Ia harus meninggalkan sesuatu. Ia berpikir keras sampai akhirnya matanya tertuju pada setumpuk kertas surat dengan motif bunga lavender dan mulai menulis. 

**** 

“Diana, aku ingin kau mendengarkanku baik-baik,” pinta Elle kepada Diana di depan minimart seberang rumahnya setelah membelikan ice cone untuk Diana. “Besok aku akan pergi, jadi aku tidak akan menemanimu pergi dan pulang sekolah. Aku merasa lelah belakangan ini, jadi aku butuh waktu sendiri dan aku memutuskan untuk berjalan-jalan besok. Aku membawa ponselku jika kau ingin menghubungiku. Aku juga meninggalkan beberapa pesan di tempat yang bisa kau temui kalau sesuatu terjadi dan aku tidak menjawab pesan darimu.” 

Diana hanya mengangguk cepat dan kembali melanjutkan menyantap es krimnya. Elle mengantarnya sampai depan rumah, memastikan Diana sudah memasuki rumah dan kembali berjalan menuju kediamannya. 

Hari itu sama seperti hari biasa. Ibu Diana tidak merasakan ada kejanggalan dari Diana. Ia lalu mengambil tas Diana yang ia letakkan begitu saja di depan pintu kamar mandi dan menempatkannya di atas meja belajar Diana. Ibu membuat spaghetti Bolognese yang sudah dipesan Diana pagi tadi. 

Elle sendiri sedang menyiapkan barang-barangnya untuk bepergian besok. Tidak lupa ia memasukkan dompet ke dalam sling bag-nya. Aku hanya butuh ini dan aku tidak akan pergi lama. Aku janji, ucapnya dalam hati. Ia segera tidur setelah menyiapkan pakaiannya untuk besok dan menyetel alarm untuk pukul 05.00. 

Esoknya seperti biasa, Diana yang sudah siap saat ini sedang berdiri di depan rumah. Ayah dan ibunya telah pergi lebih dulu karena mendapat panggilan dari rumah sakit. Setelah dua puluh menit menunggu, akhirnya Diana memutuskan untuk pergi ke sekolah sendirian. 

“Tumben sekali kau datang terlambat. Ada apa Diana?” 
“Aku sudah menunggunya selama dua puluh menit di depan rumahku, Mr. Fabian. Dua puluh menit! Bisakah kau bayangkan?” 
“Apa kau sudah mencoba untuk datang ke rumahnya? Mungkin saja dia sedang sakit.” 
“Tidak, dia tidak mungkin sakit,” jelas Diana. “Namun aku mendengar sesuatu pagi tadi. Seperti suara pagar terbuka dari rumah Elle. Sepertinya seseorang telah diam-diam membuka pintu pagar rumahnya, Mr. Fabian.” 

Mendengar ini kening Mr. Fabian berkerut. Apakah sesuatu telah menimpa Elle semalam? Ia tidak dapat berpikir jernih mengingat pertemuan terakhirnya dengan Diana dan Elle tempo hari. 

Mr. Fabian akhirnya mengantar Diana pulang ke rumah sekaligus ingin memastikan keadaan Elle. Namun apa yang ia lihat membuatnya berjalan lebih cepat, diikuti dengan langkah Diana yang tergesa-gesa karena ia tidak tahan ingin buang air kecil. 

“Kau yakin Elle tidak berkata apapun padamu, Nek?” tanya Ibu Diana yang telah menyelesaikan shift-nya di rumah sakit, masih mengenakan pakaian perawatnya. 
“Sungguh. Semalam ia bersikap seperti biasa, seperti tidak ada apa-apa.” 
“Maaf, ada apa ini?” tanya Mr. Fabian. 
“Elle menghilang, Mr. Fabian. Nenek menyadarinya pagi tadi. Kau tidak berangkat sekolah Bersama Elle, Diana?” 
Diana tidak menjawab dan langsung berlari menuju rumah untuk urusan pribadinya. 
“Apa yang kau harapkan bertanya pada anak autis itu,” seru nenek Elle.  Ibu Diana dan Mr. Fabian terkejut mendengarnya, diikuti dengan tengokan dua polisi yang sedang bertugas mengumpulkan barang bukti. 
“Tolong perhatikan ucapanmu, Nek,” Mr. Fabian menjawabnya dengan gusar. “Dia terlambat datang ke sekolah, Bu. Ia mengatakan bahwa ia telah menunggu Elle selama dua puluh menit di depan rumah, namun akhirnya ia memutuskan untuk berangkat sendirian,” jelas Mr. Fabian kepada Ibu Diana. 
“Gara-gara anakmu Elle jadi menghilang. Ia pasti sudah lelah menjaganya bertahun-tahun,” sambung Neneknya lagi. 
“Tolong jangan asal menuduh tanpa bukti yang cukup kuat, Nek,” kali ini polisi yang angkat bicara. “Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk menemukan Elle. Kasus ini jadi prioritas kami.” 

Diana menuju kamar dan mengeluarkan seluruh isi tasnya setelah menyelesaikan urusannya di kamar mandi, berharap ada beberapa koin yang dapat ia masukkan ke celengan babinya. Yang ia dapatkan justru hal lain – secarik kertas berwarna ungu tersimpan pada bagian depan tas punggungnya. Ia kemudian membuka dan membaca isi surat tersebut: 

“Ibu tirinya yang hanya mencintai dirinya tidak bisa hidup tanpa ini. Aku percaya padamu, Diana.” 

Diana yakin betul surat ini ditulis oleh Elle – rapi seperti tulisan yang terdapat pada buku dongengnya – melompat-lompat girang karena mendapatkan kuis dari Elle. Ia membaca kembali petunjuk tersebut dan berlari keluar rumah. 

Suasana di depan rumah Elle masih ramai, Ibu Diana dan Mr. Fabian juga masih berada disana. Petugas kepolisian mulai memeriksa dan menyeka pagar rumah Elle – tidak menyadari jika Diana sudah masuk ke dalam rumah Elle – setelah mendapat pernyataan dari Mr. Fabian. 

Diana sudah berada dalam kamar Elle dan mencari barang yang dimaksud Elle. Setelah membuka kabinet kedua meja belajar, ia mendapatkan cermin tangan berbentuk bunga daisy. Terdapat tulisan diatas kertas kecil yang tertempel pada cermin tersebut: 

“Oven dan kuali usang itu hanya terdiam disana. Namun mereka kedatangan dua bocah kelaparan yang mengagumi tempat mereka bersembunyi. ‘Mereka seharusnya tidak kesini’ keluh oven pada kuali.” 

“Aku tahu tempat ini!” seru Diana lalu berlari kembali ke rumahnya. Orang-orang di sekitarnya tidak menyadari keberadaannya sejak tadi. Mereka masih berdiskusi kemungkinan-kemungkinan akan hilangnya gadis mungil itu. 

Diana bersiap-siap untuk pergi menuju tempat tersebut. Ia memakai mantel merah tua dan knit hat pemberian Elle pada perayaan ulang tahunnya bulan lalu. Setelah memasukkan dompet, ponsel, dua chocolate bar, dan tempat minum ke dalam ranselnya – dan bingung memilih boots yang akan dipakai – akhirnya Diana pergi meninggalkan rumah. 

Pukul 12.00 Diana tiba di Ginger House Sweet Shop, salah satu toko permen terlengkap di kota itu. Diana dan Elle selalu menghabiskan waktunya disana ketika Ibu Diana memberikan uang saku bulanan kepada Diana – ini dilakukan atas permintaan Diana sendiri – dan mengambil semua jenis permen dan cokelat terbaru. Saat itu Ginger House sedang tutup, mengingat pemilik tokonya sedang berkabung karena anak sulungnya meninggal dunia beberapa hari yang lalu. Diana menemukan kembali notes kecil tepat di gagang pintu masuk: 

“Tchaikovsky membuat lagu ini dan kau sangat menyukainya! Duduklah di tempat biasa aku membacakanmu dongeng.” 

Dengan semangat Diana kembali berlari menuju Swan Lake, “oh aku sangat menyukai ini!” teriaknya dengan suara lantangnya. 

Ibu Diana berpamitan pulang kepada Mr. Fabian untuk mengecek keadaan Diana. Tidak lama ia kembali keluar dengan wajah pucat pasi. “Diana tidak di rumah.” 
“Saya yakin tadi dia berlari bersama saya, Bu. Dia langsung menuju ke rumah karena ingin ke toilet,” jawab Mr. Fabian masih setengah tidak percaya. 
“Saya sudah keliling rumah dan memeriksa setiap sudut, tapi Diana tidak disana.” 
Terkejut mendengar hal tersebut, seorang petugas kepolisian memanggil petugas lain untuk segera memeriksa rumah Diana diikuti Mr. Fabian yang langsung berlari kembali ke sekolah, memeriksa kembali kelas dan sekelilingnya lalu menaiki mobil setelah pencariannya tidak membuahkan hasil. 

“Ah, lelah sekali. Aku terlalu bersemangat rupanya,” ucap Diana pada dirinya sendiri. Ia akhirnya berlari kecil sesampainya di bangku taman Swan Lake. Ia mengambil tempat minum dan chocolate bar yang ia bawa dari rumah. Ia hendak membuka bungkusan ketika matanya tertuju pada tulisan kecil pada bangku tersebut. 

“Untuk bertemu dengan pesulap Oz, Dorothy dan Toto harus melewati jalan ini. Ini tujuan akhirku,” 

“Ah, sial. Aku lupa.” 

**** 

Elle menaiki bus dan menempatkan bus card pada sensor smart card machine. Ia melihat saldonya yang masih tersisa $10. Masih cukup untuk beberapa perjalanan, pikirnya. Ia memilih tempat duduk di barisan keempat dari belakang dan duduk dekat jendela. Tidak lama seorang pemuda duduk di sebelahnya. Pemuda yang menggunakan hoodie berwarna hijau botol dengan gaya swag-nya memasang airpod dan menyetel sebuah lagu dari pemutar musiknya. Merasa tergganggu, Elle menegurnya. 

“Bisa tolong dikecilkan volumenya?” 
Pemuda itu menoleh. “Oh? Keganggu ya? Maaf maaf,” diikuti dengan jarinya menekan tombol pause pada layar ponselnya. 
“Terima kasih.” 
“Mau kemana.” 
“Dua station lagi turun,” jawab Elle asal. 
“Kau masih marah dengan sikapku tadi?” 
“Tidak juga.” 
Elle akhirnya melanjutkan obrolannya. Tanpa sadar tali sling bag Elle telah dipotong oleh pemuda tersebut dengan lihai. Hanya menggunakan satu silet, namun sling bag Elle telah ada padanya. 
“Aku turun duluan ya, hati-hati.” 

Berakhirnya pembicaraan membuat Elle kembali tersadar akan tas selempangnya. “Pencuri!” teriaknya kencang hingga seluruh penumpang menoleh ke arahnya. Namun sayang ia kalah cepat. Pemuda itu telah turun dari bus dan lari menuju sebuah gang. 
“Kau tidak apa-apa, Nak?” 
“Apa ada yang hilang?” 
“Bagaimana kejadiannya tadi?” 
“Seperti apa orangnya?” 
Elle hanya bisa menangis mendengar berbagai pertanyaan itu. Ia tidak tahu harus bagaimana mengingat ponsel dan dompetnya berada pada tangan orang lain. 

Elle turun di stasiun tujuannya, lalu terduduk di halte. 'Apa yang harus aku lakukan?' tanyanya dalam hati. Dalam jaket jinsnya ia hanya memiliki sebuah pulpen dan empat lembar uang pecahan $1. 
“Ah, aku harus menulis petunjuk untuk Diana. Tapi apa dia benar-benar mencariku ya?” Walaupun penuh keraguan, Elle akhirnya kembali menulis petunjuk untuk Diana dengan perut kosongnya. 

Diana akhinya dapat menjawab petunjuk tersebut. Ia kembali berlari menuju halte bus terdekat dan melihat papan informasi. Kedatangan bus selanjutnya memakan waktu 10 menit. Ia dikejutkan oleh kehadiran Mr. Fabian saat menunggu di menit keenam. 

“Dari mana saja, Diana? Kenapa ada disini?” tanya Mr. Fabian dengan napasnya yang tersengal-sengal. Ia memarkir mobilnya sejauh 400 meter dari halte ketika melihat knit hat Diana yang selalu ia pakai ketika memasuki musim dingin. 
“Aku memecahkan teka-teki dari Elle, dan aku sudah sejauh ini. Lihat,” dengan bangga ia menunjukkan kertas yang didapatnya selama dua jam terakhir. Mr. Fabian kini dapat bernapas lega. 
“Kau sudah tahu jawabannya?” Mr. Fabian memegang kertas terakhir. 
“Kalau aku belum tahu, mana mungkin aku disini.” 
“Mau aku temani menggunakan mobilku?” 
“Aku akan sangat senang jika kau menemaniku mencari Elle. Tapi naik bus, ya.” 

Setibanya di stasiun Yellow Brick, Diana melanjutkan pencariannya. Mr. Fabian akhirnya menemukan sebuah tulisan di papan informasi: 

“Aku lapar. Gadis ini terjebak di Menara yang sangat tinggi. Temui aku di satu-satunya tempat yang menjual makanan ini. Kau pasti bisa!” 

“Apa kau tahu maksudnya?” tanya Mr. Fabian, masih bingung dengan apa yang ditulis Elle. “Gadis yang terjebak di Menara itu maksudnya Rapunzel, kan?” 
“Kau sudah menjawabnya, Mr. Fabian. Apa lagi yang kau tanyakan?” Diana melanjutkan, “Rapunzel bisa juga diartikan sebagai salad. Lamb’s lettuce.” 
Mr. Fabian hanya bisa tertawa, tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Diana benar-benar luar biasa. 
“Tapi apa kau tahu satu-satunya tempat yang menjual makanan ini, Mr. Fabian?” 
“Kau bisa mencarinya disini,” ucap Mr. Fabian sambil mengangkat ponselnya. 

Mereka akhirnya tiba di Click Diner – satu-satunya tempat di Yellow Brick yang menyediakan Rapunzel salad – dan membuka pintu. Tidak ada Elle disana. Mereka memeriksa setiap meja sampai Diana berteriak “disini, Mr. Fabian.” 
Ditemukan sebuah serbet dengan tulisan Elle: 

“Ponselku diambil orang! Kau tahu berapa jumlah monyet putih Persia dan gajah yang dimiliki Aladdin? Aku akan berada disana.” 

“Sembilan puluh lima dan enam puluh,” 
“Benarkah, Diana?” 
“Ya, aku ingat persis lagunya. Ninety five white Persian monkeys dan sixty elephants.” 
Mr. Fabian bertanya kepada seorang pelayan dan mendapatkan informasi darinya. Terdapat sebuah perpustakaan umum di antara 95th Avenue dan 60th Street. Mr. Fabian ingin beranjak pergi ketika Diana meminta padanya, “bisakah kita setidaknya mengisi perut dulu disini?” 

www.meetlalaland.com - cerita fiksi pengidap asperger

Perpustakaan umum Victoria memiliki arsitektur layaknya perpustakaan pada umumnya – berdiri dengan kokoh sejak 1939 dan memiliki taman yang luas – namun apa yang ada padanya membuat Elle selalu ingin kembali kesini. Elle pertama kali memasuki perpustakaan ini bersama kedua orang tuanya yang merupakan ilmuwan hebat kala itu. Elle mulai menyukai membaca seluruh jenis buku juga berkat mereka. Orang tua Elle meninggal enam tahun lalu dalam sebuah kecelakaan pesawat. 

Angin hari itu berhembus cukup kencang. Banyak orang yang memilih masuk ke dalam perpustakaan untuk menghangatkan diri. Kalau saja ia tidak kehilangan dompet, ia pasti sudah meneguk hot chocolate yang disediakan oleh Mrs. Leah di kafetaria perpustakaan sekarang. Elle yang termangu di bangku taman perpustakaan tiba-tiba mendengar suara yang tidak asing.

“Aku berhasil menjawab semua petunjukmu!” dengan kecepatan yang tidak diduga Diana berlari ke arah Elle sambil berteriak kegirangan. 
Elle yang mendengarnya sontak langung memeluk Diana, menangis terharu karena firasatnya selama ini benar. “Kau melakukannya dengan sangat baik, Diana. Aku bangga padamu.” 
“Apa yang terjadi?” tanya Mr. Fabian sesampainya di tempat mereka berkumpul sekarang. 
“Aku rindu orang tuaku, jadi aku kesini. Tapi hari ini aku sial. Di tengah perjalanan aku kehilangan tasku. Orang yang duduk di sebelahku mengambilnya. Aku sangat menyesal tidak memberitahumu, Mr. Fabian.” 
Mr. Fabian tersenyum hangat. “Tidak ada yang salah. Justru kamu beruntung karena memiliki ide untuk membuatkan Diana teka-teki yang bahkan aku tidak bisa menjawabnya.” 
“Aku ingin hot chocolate. Angin ini bisa membunuhku.” 
“Kau memiliki pemikiran yang sama denganku. Ada kafetaria di dalam, namun aku tidak bisa masuk karena dompetku hilang.” 
“Ayo kita masuk. Biar aku yang membelikan hot chocolate untuk kalian,” ajak Mr. Fabian yang tidak lama dihinggapi oleh sebutir salju di bahu kanannya.
Living coral telah mendelegasikan gelarnya, dan kali ini Pantone mengumumkan warna classic blue akan mendominasi tahun 2020. Setelah melalui berbagai pertimbangan dan proses panjang, warna ini dipilih dengan kesan elegannya untuk memasuki era baru. 

Personally, I really obsessed with colors. Gemes banget ngeliat tiap tahun ada aja warna-warna baru yang menarik perhatian mata – dan tiap tahun juga warna kesukaanku bertambah. Kalau lagi desain buat template presentasi, logo, vektor dkk pasti lama di nentuin warna, iya gak sih? 

Hal pertama yang ditangkap oleh mata kita adalah warna. Waktu respon dalam mengidentifikasi perbedaan warna lebih cepat jika dibandingkan saat kita menangkap perbedaan objek; keadaan ini disebabkan karena warna memiliki kemampuan lebih baik dan lebih besar dalam menarik perhatian indra penglihatan kita dibanding variabel lain. 

Pan memperluas studi terdahulunya dan menarik kesimpulan jika warna bisa menghasilkan tingkat perhatian yang tinggi juga efektif untuk meningkatkan daya ingat kita. Misalnya nih, kalau kita lagi bikin mindmap buat ujian, gak jarang kan kita lebih banyak pake spidol warna-warni buat highlight inti dari materi – ini dilakuin biar kita bisa ingat sama kata kunci dan kita bisa ngejabarin dari kata kunci tersebut sesuai daya ingat dan daya talar kita. Makin banyak atensi yang difokuskan pada suatu objek, makin besar peluang rangsangan yang kita terima untuk ditransfer ke memori kita. 

Warna juga bisa mempengaruhi kognisi dan perilaku kita melalui asosiasi yang selama ini kita pelajari. Pasti pernah ngerasain dapet nilai jelek dong? Biasanya, guru bakal ngasih nilai jelek yang ditulis dengan tinta merah. Kita mengasosiasikan situasi ini sebagai suatu kesalahan dan peringatan biar kita belajar lebih giat dan dapet nilai yang lebih baik. 

www.meetlalaland.com - arti warna classic blue dan cara memadumadankan dengan pakaian sehari-harimu

Zhu ternyata udah mengidentifikasi kalau warna merah bakal menghubungkan kita pada sesuatu yang berbau detail-oriented dan butuh perhatian tinggi – dari rambu jalan sampai mobil pemadam kebakaran – sedangkan warna biru ditafsirkan sebagai ketenangan dan kedamaian yang bikin kita merasa “aman” untuk bereksplor dan berpikir out of the box. Kejawab ya kenapa Blue dalam Blue’s Clues warnanya biru 😉 

Terlepas dari banyaknya tipe dan kodenya, warna biru membantu kita untuk menjadi lebih produktif, terutama orang-orang dengan profesi yang membutuhkan tingkat intelektual yang tinggi. Dan siapa sangka, kalau paparan sinar cahaya biru atau hijau di pagi hari berkontribusi dalam pelepasan hormon kortisol yang menstimulasi dan bantu kita untuk bangun lebih cepat.

Blue also associated with sad feelings. Walaupun banyak yang menghubungkan biru dengan hal-hal positif, warna ini juga mengindikasikan sifat yang dingin serta kesedihan. Menurut penulis legendaris Goethe dalam bukunya Theory of Colours, warna biru termasuk dalam kategori “minus colors” yang menstimulus perasaaan-perasaan negatif seperti restless hingga anxious – dari sini kita mengenal istilah feeling blue

The other way around, this color gives unexpected action. Pada tahun 2000 di daerah Glasgow, Skotlandia, pemerintah setempat memasang infrastruktur berupa penerangan jalan dengan cahaya lampu berwarna biru. Awalnya sih cuma pengen mempercantik lanskap kotanya; tapi ternyata hal ini diikuti dengan menurunnya tingkat kriminalitas pada area yang disinari oleh cahaya lampu tersebut. Hal ini juga terjadi di Jepang dan menemukan penurunan tingkat suicidal. Kembali lagi, warna biru bisa diasosiasikan sebagai perasaan security and comfort

Saking banyaknya tipe dan kode, penamaan warna makin hari makin bervariasi. Sebenernya ini salah satu strategi marketing loh! Sekarang aku tanya, lebih suka yang mana – biru langit atau sky blue? Kebanyakan cewek-cewek pasti lebih memilih opsi kedua, padahal dua istilah tersebut punya makna yang serupa. Ini tuh sama aja kaya kita lagi di café, yang satu mesen teh panas satu lagi mesen hot tea – sama-sama teh, tapi beda harganya bikin dompet langsung menipis. Konsumen menilai nama warna yang unik merangsang keinginan kita untuk membeli produk tersebut

Mengombinasikan warna classic blue ini juga bisa dibilang gak terlalu susah kok. Warna ini bakal cantik banget jika dipadu-padankan dengan warna kuning dan turunannya – mustard, honey, cream. From this combination, we can represent our elegant yet bright side. Kalau aku pribadi seneng banget pake classic blue V-neck tops dipadu tuscany knee-length skirt, classic sneakers, dan sunflower bucket hat

Untuk inspirasi lain bisa cek disini ya – keep it up with classic blue without feeling blue! 


Sources: 
Dzulkifli, M. A., and Mustafar, M. A. (2013). The Influence Colour on Memory Performance: a Review. The Malaysian Journal of Medical Sciences, 20(2), 3-9. 
Grohol, John M. (2018, July 8). Can Blue-Colored Light Prevent Suicide? 
Mehta, R., and Zhu, R. J. (2009). Blue or Red? Exploring the Effect of Color on Cognitive Task Performances. Science, 323(5918), 1226-1229. 
Miller, Elizabeth G., and Kahn, Barbara E. (2005). Shades of Meaning: The Effect of Color and Flavor Names on Consumer Choice. Journal of Consumer Research, 32(1), 86-92. 
Westland, Stephen. (2017, September 30). Here’s How Colours Really Affect Our Brain and Body, According to Science. 
Yi, Pan. (2010). Attentional Capture by Working Memory Contents. Journal of Experimental Psychology/Revue Canadienne de Psychologie Expérimentale, 64(2), 124-128.

Instagram