May 31, 2020

She Said, “Pack Your Bags”

Banyak dari kita mungkin ngerasain kalau Lebaran tahun ini menjadi Lebaran yang “gak biasa” dari tahun-tahun sebelumnya – bayangin aja, kita gak mudik! Jangankan pulang kampung, buat tarawih ke masjid aja kita dilarang 😭 banyakkin doa supaya outbreak ini segera berakhir ya!
Aku mau cerita sedikit. Suatu waktu sebelum Hari Raya, aku berkesempatan buat belajar baking (akhirnya!) dari salah satu tetanggaku – kebetulan satu kampung, jadi deket banget sama Ibu. Beliau dulu pernah bekerja pada salah satu instansi pemerintahan, dan emang hobinya bikin kue. Tiap tahun gak pernah absen buat ngasih kue Lebaran buat Ibu. Nah kemarin ini – mulai sekarang panggil aja Tante Kikan – ngajakkin aku buat belajar baking di rumahnya. Gak mau nyia-nyiain kesempatan emas ini, aku langsung mengiyakan ajakannya. Kapan lagi kan? Being quarantine doesn’t mean we can’t be productive.
Awalnya aku malu – maklum, seumur-umur kenal sama Tante Kikan ini aku gak pernah ngobrol lebih dari kata ‘terima kasih’ karena udah ngasih kue putri salju – dan minta Ibu buat nemenin selama proses pembuatan kue. Tiga hari berturut-turut aku belajar dengan beliau, and surprisingly, banyak yang suka sama hasil karya perdanaku ini. Yay!
Yang mau aku sharing disini bukan soal kuenya, apalagi proses bikinnya. Waktu itu aku lagi filling selai nanas buat nastar – dan kebetulan Ibu lagi asik sama grup WhatsAppnya – tiba-tiba Tante Kikan membuka pembicaraan.
“Pengen nanya dong. Sebenernya kamu berminat gak kerja buat pemerintah?”
“Hmm, gimana ya? Jujur untuk sekarang aku belum ada minat kesana karena gak passion aja sih, Tante,” ucapku, berhati-hati untuk tidak menyinggung perasaannya.
“Oh, gapapa kok, gak ada paksaan juga,” ada jeda saat itu. “Tapi kamu harus keluar dari sini. Pack your bags.”


Kaget dong denger ucapannya. Ma’am, we just talk a couple minutes ago. Kenapa tiba-tiba nyuruh buat angkat kaki deh?
“Maksudnya, Tante?”
“Iya kamu harus pergi dari sini. Explore. Dunia terlalu sayang buat dicuekkin gitu aja.”
“Ya, pengennya gitu sih, Tante. Tapi kan gak segampang itu. Banyak yang harus dipertimbangin.”
“Terlalu banyak pertimbangan malah bikin kamu gak sadar banyak waktu yang udah kebuang percuma. Selagi mampu, pergi.” Saat masih bekerja dulu, bisa dibilang Tante Kikan cukup sering bepergian – entah keluar kota atau ke negeri orang – karena urusan pekerjaannya. Setelah ia pensiun, kecintaannya pada travelling gak berkurang. She’s such an independent woman.
“Iya, Tante. Emang Tante udah pernah kemana aja?” tanyaku, berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Banyak, sebut aja satu-satu. Kebanyakan keliling Indonesia sih, daripada keluar. Tapi percaya deh, butuh beberapa tahun buat bisa datengin kota Indonesia satu-satu – dan Indonesia gak kalah bagus sama negara lain,” kenangnya dengan bangga.
Ngedengernya aja udah bikin daydreaming. Kalau udah ke semua tempat berarti ke Morotai juga udah dong, pikirku.
“Pasti gak dibolehin sama orang rumah, ya?” tanyanya membuyarkan lamunanku. Tepat sasaran.
“Hehe, iya.”
“Misal dapet kerjaan di luar kota?”
“Biasanya awalnya dibolehin, tapi ujungannya mereka ragu cenderung nolak.”
“Udah pernah coba buat diobrolin?”
“Udah, sih. Tapi ya hasilnya tetep sama.”
Dengan senyum ia merespon, “itu karena mereka terlalu sayang sama kamu. Coba kasih pengertian, bikin mereka percaya kalau kamu beneran pengen dan kamu mampu.”
Pembicaraan ini ngingetin aku sama salah satu subjek yang diajarin di kelas Psikologiku; namanya Separation-Individuation Theory, salah satu fase dalam kehidupan yang mayoritas dirasain oleh setiap orang. Banyak dari kita pernah ngerasain suatu masa untuk hidup ‘individualis’ – bukan sepenuhnya individualis – dimana kita pengen untuk setidaknya menyendiri dan berpisah untuk beberapa waktu dari suatu hubungan. Hal ini bisa ditemuin di hubungan manapun, gak melulu romantic relationship.
Namun, gak semua pihak bisa nerima situasi ini. Dalam analisis SSLD (Strategic, Skills Learning, and Development), ketika seseorang gak bisa buat “merelakan” orang terdekatnya melewati fase ini, biasanya mereka udah “berinvestasi” banyak pada hubungan tersebut – dalam artian mereka gak punya banyak pilihan dari hubungan lain untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Misalnya, yang paling gampang adalah dari hubungan pacaran. Ketika X pengen sendiri – entah untuk alasan apapun – gak bisa dipungkiri Y, pasangannya, langsung merasa was-was karena takut ditinggalin. Hal ini disebabkan karena kebutuhan Y udah amat sangat terpenuhi oleh kehadiran X – bisa karena perhatiannya, ketegasannya dalam ngambil keputusan you name it, atau apapun – yang akhirnya bikin Y bergantung dengan X. Karena kondisi ini juga yang bikin X gak bisa berkembang, dan gak menutup kemungkinan hubungan mereka bakal dipenuhi perdebatan karena salah satunya, X, gak bisa menuhin kebutuhannya.
Sama halnya dengan hubungan orang tua dengan anaknya, kaya yang lagi aku rasain. Ada saatnya kita bakal hidup berpisah dengan orang tua – bisa karena ngerantau buat bekerja, kuliah, atau yang paling mungkin adalah, obviously, menikah. Beberapa orang tua gak bisa ngelepasin anak mereka gitu aja karena kebutuhan mereka udah terpenuhi dari hubungan ini dan gak bisa ditemuin di hubungan manapun. Mereka gak bisa ngerasain kasih sayang yang sama dari orang lain, gak bisa ‘marahin’ (dalam arti positif ya) dengan cara yang sama dengan siapapun, dan yang paling penting adalah mereka gak bisa ngelaksanain peran sebagai orang tua secara langsung jika anaknya gak ada di dekat mereka. Pun akhirnya mereka melepaskan anaknya, mereka bakal cenderung ngerasa gelisah, khawatir, protektif, dan bakal menahan anaknya buat pergi selama mungkin.
Gak ada salahnya buat kita obrolin apa yang kita butuhin sama lawan bicara kita. Address what we needed the most and how to fulfil them in a good approach. Dalam kasus hubungan anak dan orang tua ini, pastiin kita nyampeinnya sedetail mungkin dan bikin mereka merasa aman buat ngelepasin salah satu orang terpenting dalam hidup mereka.
Intinya satu; orang tua berat melepas anak mereka karena udah berinvestasi banyak kasih sayang. Yakini mereka dengan cara yang baik tanpa terkesan memaksa. Conclusively, they want what’s best for their – always be – little child. Selamat berkomunikasi!

Post a Comment

Instagram